Archive for December, 2008

Era Food Gathering dan Empat Kuadran Kuliner

Robert T. Kiyosaki membagi manusia menjadi 4 kuadran secara finansial (cashflow quadrant), dan mengajak agar berpindah dari sisi kiri ke sisi kanan.

The 4 Culinary Quadrant

The 4 Culinary Quadrant

Beberapa puluh abad yang lalu, manusia berburu makanan; atau sering kita kenal dengan era ‘food gathering’. Ternyata era ini berulang lagi dalam kehidupan kita di abad 21 ini.

Seberapa sering anda makan dirumah? Apakah anda lebih sering makan diluar daripada memasak sendiri?

Sebagian besar dari kita telah kembali ke era food gathering, seperti nenek moyang kita dulu. Kita jarang lagi menanam jagung di kebun kita, atau menyemai kentang di ladang kita. Kalaupun kita berkebun atau bercocok tanam, itu pastilah hobi, atau bagian dari bisnis kita. Kita jarang sekali bisa memasak apa yang kita tanam. 

Manusia kembali berburu untuk makanan.

Bedanya, dulu pilihan berburu sangat terbatas, jadi manusia cenderung tidak pilih-pilih ketika berburu. Mana ada, mana sikat!

Di era food gathering abad 21, manusia dijejali dengan begitu banyak pilihan makanan. Dari kaki lima sampai restoran mewah, dari makanan lokal tradisional sampai gerai modern franchise dari negara lain, dan masih banyak lagi pengkategorian makanan yang ada di sekitar kita.

Saya mencoba membagi bagaimana manusia sebagai makhluk konsumsi memutuskan apa yang akan menjadi “buruannya” berupa apa yang dia makan dan minum menjadi empat kuadran yaitu:

1. The Common (C)
2. Price Comparative (P)
3. Sense Seduction (S)
4. As Destination (D)

Akan saya coba bahas satu persatu;

Kuadran pertama: The Common (C)

Kuadran pertama yaitu The Common (C), adalah ketika Continue reading ‘Era Food Gathering dan Empat Kuadran Kuliner’

Manajemen SOP beserta aplikasinya di restoran (sebuah studi kasus)

Kemarin,

Saya mendapatkan sebuah kritik keras dari konsumen mengenai bagaimana menentukan batasan-batasan dalam aplikasi sebuah Standard Operational Procedure pada restoran. Berikut saya quote dari blog beliau:

Setelah kami duduk datanglah seorang waiter datang membawa menu yang kami tunggu. Biasanya setelah menyerahkan menu memang mereka pergi sambil menunggu agak jauh sebelum dipanggil untuk mencatat pesanan, tapi ini agak sedikit beda, dia tidak pergi, sesaat kemudian dia memberitahu kami dengan halus, bahwa dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. beberapa saat aku terdiam masih belum paham maksut yang dikatakannya aslinya memang gak konsentrasi karena lapar. Kemudian sontak saya sadar bahwa dia memang memperingatkan kami sekeluarga, karena anak kami membawa Snack chiki. Setengah emosi saya tanyakan, apakah disini menjual chiki juga? karena kupikir dilarang membawa chicki juga karena mereka menjual snack chiki, tidak ada jawaban, lalu kutanya lagi, apakah sebuah chiki juga dilarang dibawa masuk ke area makan disitu? dan jawabnya memang begitulah peraturannya.

SOP yang berlaku di FoodFezt yaitu ‘dilarang membawa makanan dan minuman dari luar’ sebenarnya adalah sebuah peraturan standard yang ada juga di restoran yang lain. Lalu apa yang salah?

Yang salah adalah bagaimana menerapkannya dan apa saja batasan aplikasinya.

Apabila anda sedang memulai bisnis kuliner, yang anda tunggui/supervisi sendiri, kasus seperti ini hampir dipastikan tidak mungkin terjadi. Tetapi ketika ‘naik level’, anda sudah mulai menggunakan SOP sebagai panduan untuk melayani pelanggan, berhati-hatilah. Selalu perhitungkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, segala bentuk respon pelanggan, dan bagaimana antisipasinya.

Dalam hal ini, pelaksana SOP (waiter) tidak bisa dipersalahkan. Ini adalah masalah dari ‘policy maker’.

Saya telah meminta maaf secara langsung dengan media yang sama kritik tersebut disampaikan (comment di blog), tapi saya telah terlanjur kehilangan beberapa pelanggan setia saya karena ini karena efek word of mouth yang terjadi.

Semoga pengalaman dan pelajaran berharga yang saya alami bisa juga menjadi pelajaran berharga untuk anda. We’re always be a student of life, anyway..